Oktober 8, 2026 sahahaddariyah.com
Mereplikasi Al-Azhar: Mungkinkah?

Mereplikasi Al-Azhar: Mungkinkah?

Muhammad Hafiz Sudirman September 8, 2026 5 min read

Oleh: Muhammad Hafis Sudirman, Lc. (Direktur Sahah Addariyah 24/25 & Anggota Dewan Syuro Sahah Addariyah)

Gagasan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. KH Nasaruddin Umar, mengenai kemungkinan pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia menarik untuk dibaca lebih jauh. Gagasan tersebut antara lain dimaksudkan agar mahasiswa dari Indonesia dan kawasan Asia Tenggara tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke Mesir untuk mendapatkan pendidikan di Al-Azhar.

Secara pragmatis, gagasan ini tentu menawarkan banyak keuntungan. Akses terhadap pendidikan Al-Azhar menjadi lebih dekat, biaya dan jarak dapat ditekan, sementara kerja sama kelembagaan antara Indonesia dan Mesir dapat semakin kuat. Namun, di balik gagasan tersebut terdapat satu pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah Al-Azhar dapat direplikasi?

Al-Azhar Bukan Sekadar Sebuah Institusi

Jika Al-Azhar dipahami hanya sebagai sebuah universitas, maka secara teoritis banyak hal darinya yang dapat direplikasi. Kurikulum dapat dipindahkan, dosen dapat didatangkan, kitab dapat disediakan, sistem akademik dapat diadaptasi, bahkan, bangunan dan fasilitas pembelajarannya pun dapat dibuat sedemikian rupa.

Tetapi apakah semua itu sudah cukup untuk menghadirkan Al-Azhar? Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Al-Azhar yang dikenal hari ini tidak lahir hanya dari sebuah kurikulum. Al-Azhar berdiri di atas sebuah mata rantai panjang transmisi ilmu. Di dalamnya terdapat ulama, masyayikh, halaqah, kitab turats, tradisi talaqqi, diskusi ilmiah, sanad keilmuan, dan lingkungan yang selama berabad-abad memungkinkan ilmu tidak hanya dibaca, tetapi juga diwariskan dari seorang guru kepada murid.

Meng-copy kurikulum Al-Azhar tidak serta-merta menghasilkan Al-Azhar. Sama halnya dengan mengambil daftar kitab yang digunakan para ulama, lalu mengajarkannya di sebuah lembaga. Kitabnya mungkin sama, tetapi tradisi yang menghidupkan kitab tersebut belum tentu sama.

Yang Sulit Direplikasi adalah Ekosistemnya

Salah satu kekuatan tradisi Al-Azhar terletak pada keberadaan ekosistem keilmuan. Seorang penuntut ilmu tidak hanya mendapatkan pelajaran di ruang kelas. Ia dapat menghadiri majelis seorang syekh, membaca kitab secara talaqqi, bertanya tentang persoalan yang tidak dipahaminya, mendengar perbedaan pendapat, menyaksikan bagaimana seorang alim membaca dan menjelaskan teks, serta berinteraksi dengan penuntut ilmu dari berbagai latar belakang.

Dalam ekosistem semacam ini, ilmu tidak berhenti pada transfer informasi saja. Ada proses pembentukan cara berpikir, cara membaca kitab, cara memahami khilaf, cara berdiskusi, bahkan cara bersikap terhadap ilmu dan guru.

Inilah salah satu alasan mengapa talaqqi menjadi penting. Sebab, ilmu bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana sesuatu diketahui, dari siapa ia dipelajari, bagaimana ia dipahami, dan bagaimana ia ditempatkan dalam bangunan ilmu secara keseluruhan.

Talaqqi Bukan Sekadar Metode Belajar

Dalam konteks ini, talaqqi tidak tepat jika hanya dipahami sebagai metode pedagogis yang bisa diganti begitu saja dengan metode pembelajaran lainnya.

Talaqqi memiliki dimensi yang lebih dalam. Ketika seorang murid duduk di hadapan gurunya dan membaca sebuah kitab, yang ditransmisikan bukan hanya isi teks. Ia juga belajar bagaimana gurunya memahami ibarat, menentukan pendapat yang kuat, menjelaskan istilah, menghubungkan satu pembahasan dengan pembahasan lainnya, dan menyikapi perbedaan di antara para ulama.

Di sinilah letak perbedaan antara sekadar reading dan learning. Membaca memungkinkan seseorang berhadapan dengan teks. Talaqqi membantu seseorang berhadapan dengan tradisi ilmu yang melahirkan teks tersebut.

Al-Azhar Tidak Hanya Mengajarkan Kitab

Bayangkan seseorang membawa kitab-kitab yang digunakan di Al-Azhar ke sebuah tempat baru. Ia menyusun kurikulum berdasarkan kitab tersebut dan mengajarkannya dengan sistem perkuliahan yang sama. Apakah dengan demikian telah lahir Al-Azhar? Belum tentu, sebab kitab hanyalah salah satu bagian dari tradisi.

Ada cara membaca kitab, cara memahami ibarat, disiplin dalam mempelajari setiap ilmu, hubungan antara satu disiplin dengan disiplin lainnya, adab terhadap guru, budaya ilmiah, perbedaan pendapat yang dipelajari tanpa harus melahirkan fanatisme, dan pengalaman panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, kitab yang sama belum tentu melahirkan hasil yang sama ketika diajarkan dalam lingkungan yang berbeda. Satu kitab dapat ditemukan dalam bentuk PDF di mana saja. Rekaman kajian dapat ditonton dari mana saja. Bahkan hari ini, dengan perkembangan kecerdasan buatan, seseorang dapat memperoleh penjelasan tentang hampir semua tema dalam hitungan detik.

Lalu, Apakah Al-Azhar Tidak Bisa Direplikasi?

Jika yang dimaksud adalah membuat lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan turats dengan metode talaqqi, menghadirkan para ulama, membangun kurikulum bertahap, dan menciptakan lingkungan ilmiah, maka jawabannya tentu bisa. Bahkan, kebutuhan untuk menghadirkan lembaga semacam itu di berbagai tempat justru semakin besar.

Tetapi jika yang dimaksud adalah memindahkan Al-Azhar secara utuh, dengan seluruh sejarah, ulama, tradisi, sanad, kultur, dan ekosistem yang telah terbentuk selama ratusan tahun, maka jawabannya tentu berbeda.

Membangun, Bukan Sekadar Meniru

Di sinilah tantangan yang sebenarnya. Membangun pusat keilmuan berbasis turats di luar Mesir tidak seharusnya diarahkan untuk menjadi replika Al-Azhar secara harfiah. Sebab setiap tempat memiliki sejarah, masyarakat, bahasa, kebutuhan, dan persoalan yang berbeda.

Yang perlu dibawa adalah ruh keilmuannya: penghormatan terhadap turats, kedekatan dengan ulama, talaqqi, ketelitian dalam membaca teks, kedalaman penguasaan disiplin ilmu, adab dalam menuntut ilmu, serta kesinambungan transmisi ilmu.

Setelah itu, tradisi tersebut perlu berakar di tempat baru. Mungkin bentuknya berbeda, kurikulumnya mungkin berbeda, bahkan sistem kelembagaannya pun bisa berbeda. Tetapi selama prinsip keilmuannya terjaga, perbedaan bentuk bukanlah sebuah masalah. Sebab tujuan kita bukan menciptakan salinan Al-Azhar. Tujuan kita adalah membangun pusat-pusat ilmu yang memiliki kedalaman, sanad, tradisi, dan ruh keilmuan.

Pada akhirnya, pertanyaan “Mereplikasi Al-Azhar: mungkinkah?” mungkin perlu diubah menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: Apa sebenarnya yang ingin kita replikasi dari Al-Azhar? Jika yang ingin kita tiru adalah gedungnya, kurikulumnya, atau nama besarnya, mungkin itu relatif mudah. Namun jika yang ingin kita hadirkan adalah tradisi keilmuannya, maka pekerjaan itu membutuhkan waktu yang panjang.Sebab tradisi tidak dapat dibangun dalam satu seminar, satu program, atau satu generasi. Ia membutuhkan guru yang mewariskan, murid yang menerima, dan generasi berikutnya yang meneruskan.

Al-Azhar menjadi besar bukan karena ia pernah didirikan, tetapi karena ilmu di dalamnya terus diwariskan. Maka, mungkin kita tidak perlu bertanya bagaimana membuat “Al-Azhar” di tempat kita.Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang harus kita tanam hari ini agar seratus tahun dari sekarang, tempat kita juga memiliki tradisi keilmuan yang layak diwariskan?”

Editor: Muhammad Khalil Jibran